Selasa, 05 September 2017

ORO BEACH HOUSE DAN KALPATARU







19 Agustus  2016,  dalam perjalanan pulang ke Jakarta, setelah menghadiri sebuah acara di Waingapu Sumba Timur, saya dan dua dari Jakarta , Zisca dan Ela,   dan 2 teman dari Waingapu , Aprianus Djangga Uma dan Ari Tala. Kami menginap  di Weetabula Sumba Barat Daya, Penginapan yang kami pilih, sejak dari Jakarta adalah Oro Beach Houses atas rekomendasi beberapa teman yang pernah tinggal di tempat ini. Mereka mengatakan, “pemandangan sunset dan sunrise dari tempat ini sangat indah walaupun pantainya tak dapat direnangi. Pemilik Oro Beach seorang Jerman penerima Kalpataru”. 

Cerita ini membuat saya penasaran ingin mencoba. Pemesanan kamar, kami lakukan melalui telepon dan dilayani oleh Pak Lukas. Memang di website Orobeach tercantum nama Lukas dan Siska yang dapat dihubungi untuk reservasi. Ternyata, kemudian mereka berdua suami istri pemilik Oro Beach Houses tersebut, Lukas Wuensch, pria berkebangsaan Jerman  dan   Fransiska Lali asal Flores NTT . Mereka dikaruniai 3 putri : Noni, Elza dan Zora  



Kami tiba di tempat ini, sudah agak gelap, kira2 pukul 5.30 sore.  Untuk saya, yang penglihatannya agak terbatas, ketika tiba dan diantar ke villa  dengan dua kamar berdampingan yang akan kami gunakan, sama sekali belum tergambar bagaimana suasana  disekitar.  Masih ada sedikit waktu sebelum matahari betul betul terbenam sehingga masih ada ujungnya yang dapat kami nikmati. Indah !


Selepas matahari terbenam,  Siska pemilik Oro Beach, mendatangi dan memperkenalkan dirinya , maka tahulah saya. Inilah kekuatan penginapan ini, sentuhan kekeluargaan !  Kita ngobrol2, seakan sudah teman lama. Berbagi cerita tentang masa awalnya bertemu dengan Lukas,  bertukar-pikiran tentang banyak hal terutama masalah sosial menyangkut kesetaraan gender dan juga politik (he..he..he..) Terasa betul energi wanita ini.  



Dengan semangat dan rasa cinta yang terasa mendalam, Siska, wanita yang mempunyai pendidikan dibidamng pariwisata ini, menceritakan masa-masa di mana mereka harus memperjuangan cinta mereka dan kemudian menjadi sepasang kekuatan yang membangun Oro Beach Houses ini.

Kesan pelayanan kekeluargaan  ini semakin kuat, setelah tidak berapa lama kemudian, datang putri mereka yang pertama bernama Noni , membawa sapu dan lap. Bersama dua anak lain yang bekerja membantu keluarga ini, Noni (kurang lebih 12 tahun usianya waktu itu)  akan menyapu dan menyiapkan meja agar  siap digunakan makan malam .  wow…menarik sekali, sebagai anak pemilik , sejak kecil Noni sudah dididik  menjadi tuan rumah yang ramah dan baik. Sesudah makan malam, para pembantu, ada dua anak muda datang membereskan sisa makan malam dan kemudian mereka datang lagi menemani kami ngobrol sampai waktu istirahat.

 Keesokan pagi, kami bergegas menuju pantai.  Memang berniat mau menikmati matahari terbit ditempat ini.  Berada disekitar pinggir pantai yang dipenuhi  alang-alang, menanti terbitnya matahari, ditingkah suara deburan ombak. Prima !



 Perlahan tapi pasti matahati beranjak nai. Seakan membuka tirai panggung alam disekeliling Oro beach Houses ….wau……..disekitarnya  tumbuh berbagai pohon keras . Rupanya sejak menempati Pantai Oro, Bapa Noni, demikian Lukas biasa disapa , sudah menanam aneka tanaman di antaranya kesambi, asam, kadondong hutan, jati putih dan mahoni. Tanaman tersebut dinilainya cocok dengan tanah Oro. Pada waktu kami kunjungi, memang sedang musim kering tetapi terlihat bahwa lingkungan Oro  masih dipenuhi dengan rimbunnya pepohonan hijau. Ini daya tarik yang kedua, lingkungan yang alam ! Kita seperti berada dihutan, tetapi ada ditepi pantai.
Menurut cerita, memang Lukas adalah pecinta lingkungan. Dan kecintaannya pada lingkungan ini pernah memperoleh penghargaan dari pemeromtah Sumba Barat Daya, yang menganugerahinya Kalpataru di tahun 2014.  Penghargaan lingkungan hidup diberikan atas jasanya menjaga lingkungan di Oro, Desa Pogo Tena, Kecamatan Loura.


Di pagi hari, suasana alami   diantara alang-alang  dan pepohonan menjadi terasa sangat eksotis disiram  semburat cahaya matahari terbit.  Pagi itu (20/8.16) Siska sempat mendatangi kami yang sedang menikmati matahari. Dan kemudian, ia menceritakan bagaimana perjuangannya dengan Lukas membangun Oro Beach dan tantangan yang dihadapinya. Bicaranya penuh semangat dan menggambarkan kecintaannya yang mendalam pada kehidupan.



Sangat berkesan. 
Perjumpaan dengan keluarga Lukas dan Siska di Oro Beach menjadi sebuah persahabatan.

Di bulan April 2017, kami sempat mengunjungi Siska lagi, tapi kali ini dalam suasana yang berbeda. Karena beberapa bulan sebelumnya diawal 2017,  Lukas Wuensch, meninggal dunia .

Dan sekarang Siska Wuensch dengan semangat yang sama mengelola Oro Beach Houses. Pasti setiap ujung Oro houses, setiap derak pepohonan disekitar akan mendatangkan kembali kenanganmereka sekeluarga pada Lukas. Dan kenangan itu semoga , membuat mereka semakin semangat memelihara warisan yang Lukas tinggalkan , cinta lingkungan, cinta keghidupan menjadi utuh di Oro Beach Houses .





Tidak ada komentar:

Posting Komentar