19 Agustus 2016,
dalam perjalanan pulang ke Jakarta, setelah menghadiri sebuah acara di
Waingapu Sumba Timur, saya dan dua dari Jakarta , Zisca dan Ela, dan 2 teman
dari Waingapu , Aprianus Djangga Uma dan Ari Tala. Kami menginap di Weetabula Sumba Barat Daya, Penginapan
yang kami pilih, sejak dari Jakarta adalah Oro Beach Houses atas rekomendasi
beberapa teman yang pernah tinggal di tempat ini. Mereka mengatakan, “pemandangan
sunset dan sunrise dari tempat ini sangat indah walaupun pantainya tak dapat direnangi.
Pemilik Oro Beach seorang Jerman penerima Kalpataru”.
Cerita ini membuat saya
penasaran ingin mencoba. Pemesanan kamar, kami lakukan melalui telepon dan
dilayani oleh Pak Lukas. Memang di website Orobeach tercantum nama Lukas dan
Siska yang dapat dihubungi untuk reservasi. Ternyata, kemudian mereka berdua
suami istri pemilik Oro Beach Houses tersebut, Lukas Wuensch, pria berkebangsaan
Jerman dan Fransiska Lali asal Flores NTT . Mereka
dikaruniai 3 putri : Noni, Elza dan Zora
Kami tiba di tempat ini, sudah agak gelap,
kira2 pukul 5.30 sore. Untuk saya, yang
penglihatannya agak terbatas, ketika tiba dan diantar ke villa dengan dua kamar berdampingan yang akan kami
gunakan, sama sekali belum tergambar bagaimana suasana disekitar. Masih ada sedikit waktu sebelum matahari betul
betul terbenam sehingga masih ada ujungnya yang dapat kami nikmati. Indah !
Selepas matahari terbenam, Siska pemilik Oro Beach, mendatangi dan
memperkenalkan dirinya , maka tahulah saya. Inilah kekuatan penginapan ini,
sentuhan kekeluargaan ! Kita ngobrol2,
seakan sudah teman lama. Berbagi cerita tentang masa awalnya bertemu dengan
Lukas, bertukar-pikiran tentang banyak
hal terutama masalah sosial menyangkut kesetaraan gender dan juga politik
(he..he..he..) Terasa betul energi wanita ini.
Dengan semangat dan rasa cinta yang terasa
mendalam, Siska, wanita yang mempunyai pendidikan dibidamng pariwisata ini,
menceritakan masa-masa di mana mereka harus memperjuangan cinta mereka dan
kemudian menjadi sepasang kekuatan yang membangun Oro Beach Houses ini.
Kesan pelayanan kekeluargaan ini semakin kuat, setelah tidak berapa lama
kemudian, datang putri mereka yang pertama bernama Noni , membawa sapu dan lap.
Bersama dua anak lain yang bekerja membantu keluarga ini, Noni (kurang lebih 12
tahun usianya waktu itu) akan menyapu dan
menyiapkan meja agar siap digunakan
makan malam . wow…menarik sekali,
sebagai anak pemilik , sejak kecil Noni sudah dididik menjadi tuan rumah yang ramah dan baik.
Sesudah makan malam, para pembantu, ada dua anak muda datang membereskan sisa
makan malam dan kemudian mereka datang lagi menemani kami ngobrol sampai waktu
istirahat.
Keesokan pagi, kami bergegas menuju
pantai. Memang berniat mau menikmati
matahari terbit ditempat ini. Berada
disekitar pinggir pantai yang dipenuhi alang-alang,
menanti terbitnya matahari, ditingkah suara deburan ombak. Prima !
Perlahan
tapi pasti matahati beranjak nai. Seakan membuka tirai panggung alam disekeliling
Oro beach Houses ….wau……..disekitarnya tumbuh
berbagai pohon keras . Rupanya sejak menempati Pantai Oro, Bapa Noni, demikian
Lukas biasa disapa , sudah menanam aneka tanaman di antaranya kesambi, asam,
kadondong hutan, jati putih dan mahoni. Tanaman tersebut dinilainya cocok
dengan tanah Oro. Pada waktu kami kunjungi, memang sedang musim kering tetapi
terlihat bahwa lingkungan Oro masih
dipenuhi dengan rimbunnya pepohonan hijau. Ini daya tarik yang kedua,
lingkungan yang alam ! Kita seperti berada dihutan, tetapi ada ditepi pantai.
Menurut cerita, memang Lukas adalah pecinta
lingkungan. Dan kecintaannya pada lingkungan ini pernah memperoleh penghargaan
dari pemeromtah Sumba Barat Daya, yang menganugerahinya Kalpataru di tahun
2014. Penghargaan lingkungan hidup
diberikan atas jasanya menjaga lingkungan di Oro, Desa Pogo Tena, Kecamatan
Loura.
Di pagi hari, suasana alami diantara
alang-alang dan pepohonan menjadi terasa
sangat eksotis disiram semburat cahaya
matahari terbit. Pagi itu (20/8.16)
Siska sempat mendatangi kami yang sedang menikmati matahari. Dan kemudian, ia
menceritakan bagaimana perjuangannya dengan Lukas membangun Oro Beach dan
tantangan yang dihadapinya. Bicaranya penuh semangat dan menggambarkan
kecintaannya yang mendalam pada kehidupan.
Sangat berkesan.
Perjumpaan dengan keluarga Lukas dan Siska di
Oro Beach menjadi sebuah persahabatan.
Di bulan April 2017, kami sempat mengunjungi
Siska lagi, tapi kali ini dalam suasana yang berbeda. Karena beberapa bulan
sebelumnya diawal 2017, Lukas Wuensch, meninggal
dunia .
Dan sekarang Siska Wuensch dengan semangat
yang sama mengelola Oro Beach Houses. Pasti setiap ujung Oro houses, setiap
derak pepohonan disekitar akan mendatangkan kembali kenanganmereka sekeluarga
pada Lukas. Dan kenangan itu semoga , membuat mereka semakin semangat
memelihara warisan yang Lukas tinggalkan , cinta lingkungan, cinta keghidupan
menjadi utuh di Oro Beach Houses .








Tidak ada komentar:
Posting Komentar