Kain Tenun Sintang, selalu dalam angan2 saya, sebagai seorang yang gemar /pemerhati kain tenun Indonesia. Hari ini (11/09/2017) saya memperoleh koleksi pertama kain tenun Sintang. Seorang teman kantor yang melakukan perjalanan ke Sintang Kalbar, (Mr. Willie Smits) berkenan dititipi kain tenun Sintang , Hanya yada satu kata…menggembirakan !
Kain Tenun Sintang
Ada begitu banyak ragam tenun di Indonesia yang sangat kaya motif dan beragam cara membuatnya. Dan banyak pula jenis kain tenun ini yang sudah mulai langka di temukan di nusantara ini. Salah satunya adalah kain tenun ikat dari Suku Dayak di KalimantanBarat ini.
Kain tenun Sintang dari Kalimantan barat ini berasal dari dua daerah kecil di Kabupaten Sintang, yakni Ensaid panjang dan Bukit kelam.
Kain tenun , mempunyai peran sangat penting dalam kehidupan sehari-hari dan upacara adat. Suku Dayak membuat tenunan dengan motif yang indah untuk baju, rok, cawat, dan selimut juga bagi kepentingan upacara. Menenun sudah menjadi kewajiban, khususnya bagi kaum wanita karena ke-dua kebutibutuhan tersebut. Ia mulai langka karena perkembangan jaman dan teknologi,
Pastor Maessen dan upaya pelestarian Kain Sintang
Bicara mengenai pelestarian kain tenun
Sintang, sangat sulit tanpa menyebut satu nama, yaitu pastor Maessen, seorang
misionaris Katholik asal Belanda yang sudah lebih dari
50 tahun mengabdikan dirinya untuk memajukan masyarakat Dayak di Pulau
kalimantan. Pada tahun 1999, Yayasan Kobus, pi,pimam pastor Messen, bekerjasama dengan beberapa NGO menghidupkan
kembali kegiatan menenun sebagai upaya alternatif untuk meningkatkan pendapatan
keluarga, sekaligus untuk melestarikan budaya, melalui suatu program yang
dinamakan ”Restorasi Tenun Ikat Dayak”.
![]() |
Maret 2017, berjumpa Marcel & Margot Maessen yang datang dari
Belanda mengunjungi
sang adik pastor Maessen di Sintang yang merayakan 50 tahun melayani Dayak
Indonesia, sebagai pastor.
|
Simak pendapat pastor Maessen tentang Tenun Sintang yang pernah dimuat di Senentang News .com Nov, 2014 : “Tenun ikat merupakan salah satu kebudayaan indonesia yang sangat bagus dan sangat bernilai. Namun sangat disayangkan karena hanya sebeberapa dihargai. Kebudayaan tenun ikat tidak boleh hilang. Orang luar datang ke Indonesia sangat mengagumi Kebudayaan kita, sangat menghargai tenun ikat. Mereka justru sangat berminat untuk mempelajari dalam pembuatan tenun ikat itu. Mereka bahkan membeli tenun dan membawa ke negara mereka.”
“Kain tenun ikat memliki motif yang beragam, memiliki arti dan cerita kehidupan . Di Kabupaten Sintang memiliki Orang-orang yang bepotensi dalam membuat dan melestarikan Tenun Ikat serta kebudayaan lainnya. Ini harus kita dukung , kita hargai dan kita fasilitasi agar mereka terus bekarya dan terus berkembang.”
Motif, menggambarkan hubungan manusia dengan alam
Seperti banyak daerah di Indonesia proses menenun, motif nya menggambarkan distim kepercayaan mereka dan menggambarkan kehidupan itu sendiri. Demikian juga pada suju Dayak.. Menurut cerita Suku Dayak pada masa dahulu kala, membuat kain tenun menjadi sakral. Menurut kepercayaan leluhur, dunia dibagi dua kehidupan yaitu dunia atas dan dunia bawah. Bentuk sakral dari kain tenun bagi masyarakat Dayak terdapat pada benang dan motif. Karena kain tenun dianggap sakral, maka kain tenun ikat menjadi pakaian wajib dalam setiap upacara adat masyarakat Dayak.
“Benang menjadi sakral pada proses pewarnaan kain tenun. Karena menurut kepercayaan masyarakat Dayak, saat roh pewarna dunia bawah menyatu dengan roh pewarna dunia atas maka saat itulah benang jadi memiliki arti sakral. Oleh karena itulah, untuk menjaga animo masyarakat Dayak dalam menghasilkan tenun ikat serta untuk menghargai kebudayaan leluhur mereka maka Pastor Mensen semakin membantu masyarakat Dayak Sintang agar bisa menggali lebih dalam motif-motif tenun ikat peninggalan leluhur mereka agar bisa diproduksi.
Kalau disimak, motif kain tenun ikat Dayak, adalah gambaran mimpi tentang kehidupan, dewa, manusia, hewan, tumbuhan, bahkan hantu, yang kemudian dituangkan dalam gambar ataupun lukisan di kain-kain tenun yang dibuat para perempuan Dayak yang mendiami rumah betang di wilayah kabupaten di Kalimantan Barat. Gambar dalam tenunan tetap merupakan ruang lingkup kehidupan manusia, tetap ada hubungannya dengan manusia, alam atas, dan alam bawah. Juga dengan alam sekitar, binatang, dan tumbuh-tumbuhan.
Dari mana mereka belajar menenun?
Para penenun di rumah-rumah Betang Suku Dayak di Kalimantan, belajar menenun secara turun-temurun dari para orang tua mereka. Dari satu generasi ke generasi berikutnya. Mereka mencoba melestarikan tradisi. Namun juga harus diakui, seiring dengan pergeseran waktu, kini banyak anak muda Rumah Betang enggan menenun.
Antara news bulan lalu (29/07/2017) mengutip percakapannya dengan seorang penenunn yang dijumpainya di Rumah Betang Ensaid Panjang, Kabupaten Sintang, Maria (40), mengaku belajar menenun dari ibunya, saat dia masih remaja. "Saya belajar dari mamak (ibu) saya," kata Maria.
Untuk saya bisa memiliki kain tenun ikat Dayak dan juga daerah lainnya mempunyai
kebanggan tersendiri. Paling tidak merasa ikut
mempertahankan warisan budaya Pmdonesia/
![]() |
| Bersama pak Odang dan Mr Willie Smits berkenan dititipi kain Tenun Sintang |







Tidak ada komentar:
Posting Komentar