Hanoi,
ibukota Vietnam ini dari dulu selalu menjadi salah satu kota yang saya
idam-idamkan untuk kunjungi. Mungkin karena banyak mendengar cerita dari
teman-teman yang pernah kesana, tentang keunikan kota ini, biaya hidup dan
penginapan yang murah dan juga kulinernya yang eksotis. Belum lagi daya tarik
indahnya beberapa wisata alam disekitar kota dan juga sedikit diluar kota.
Memang Vietnam Utara di mana Hanoi berada sangat kaya dengan keindahan alam
yang sudah diakui menjadi pusaka dunia, seperti gugus batuan di lautan (Halong
Bay) dan juga gugus batuan di sungai ( Tam Coc) yang juga saya kunjungi..
Kesempatan
yang pernah saya peroleh untuk mengunjungi Hanoi, kota tempat Ho Chi Minh (
sang negarawan yang memproklamirkan kemerdekaan Vietnam itu disemayamkan) di
tahun 2013, rasanya selalu saya kenang dan ingin saya
ulang…he…he..he
Hanoi
mempunyai ciri tersendiri dibandingkan Ho Chi Minh . Kalau Ho Chi Minh City sarat dengan sentuhan arsitektur Perancisnya,
ibu kota Vietnam ini menunjukan pengaruh arsitektur Cina sangat dominan terasa.
Berada di kawasan kota tuanya yang terkenal dengan sebutan ‘The Old Quarter’, kita
diajak berkelana menembus waktu ke masa
lalu. Kawasan ini terjaga dengan baik, memberikan nuansa tersendiri dengan
jalan-jalan sempitnya, bangunan dengan perpaduan antara arsitektur kolonial dan
Cina. Dikawasan ini ada danau Hoan Kiem
dan taman-tamannya, membuat kita tidak bosan melangkahkan kaki menyusurinya.
Bangunan
bersejarah, adalah salah satu perhatian saya. Di kawasan ini ada
bangunan-bangunan bersejarahnya, diantaranya St. Joseph’s Cathedral yang
dibangun pada masa kekuasaan Perancis tahun 1886. Gereja berasitektur
neo-Gothic dan berwarna suram ini berdiri tegak menghiasi kota dan setiap jam
siap mendentangkan loncengnya.
Sementara
daya tarik utama Old Quarter boleh dibilang adalah Hoan Kiem Lake, danau yang
dipercantik dengan pagoda kecil yang dinamakan Turtle Tower ditengah-tengahnya.
Taman di sekitar danau menjadi tempat yang nyaman untuk berolah-raga menghidyp
udara segar di pagi hari atau duduk-duduk santai menikmati kota. Tak heran
taman danau ini tidak pernah sepi pengunjung dari pagi hingga malam.
Melengkapi
perjalanan ke Hanoi, saya memilih kunjungan ke Halon Bay yang soohor itu dengan
gugus batuan di laut dan juga mengunjungi Tam Coc dengan gugus batuan di
sungai.
Halong Bay
atau Teluk Halong sangat indah dan unik.
Tak heran kalau situs ini menjadi andalan wisata Vietnam utara dan juga
merupakan salah satu UNESCO World Heritage Site . Terletak diluar kota Hamoi,
berjarak lebih kurang 3,5 jam naik mobil. Teluk yang dalam bahasa Vietnam
berarti Teluk Naga yang sedang turun ini memiliki 1.969 pulau-pulau batu kapur
yang menjulang spektakuler di laut dan sebagian besarnya memiliki gua dengan
stalaktit dan stalagmit yang juga tak kalah menariknya. Menyusuri bukit kapur
di laut, keluar masuk gua, diatas kapal kayu dan kemudian juga menggunakan
kayak menjadipengalaman yang menarik untuk saya.
Bermalam di
Halong, perjalanan di teruskan menuju Hoa Lu dan Tam Coc. Perjalanan menuju Hoa
Lu Tam Coc. Pemandangan pun mulai berubah, kami mulai melihat deretan bukit nan
hijau di kejauhan. Semakin lama semakin cantik.
Hoa Lu
adalah ibukota kerajaan kuno Vietnam. Di tempat ini masih terdapat dua istana
dari raja Dinh dan raja Le. Tempat ini besar sekali. Dan dikelilingi bukit-bukit karst yang hijau
dan cantik sekali.
Setelah makan
siang disebuah restoran di seberang sungai yang dikenal dengan nama
sungai Ngo Dong , kita bisa menyusuri sungai dengan perahu2 (sewa) yang sudah siap di sepanjang sungai
Satu perahu
cukup untuk dua sampai tiga orang. Pengemudi
perahu, kebanyakan wanita desa. Selain
pemandangan bukit-bukit karst dan persawahan yang ada di kiri dan kanan sungai,
pemandangan lain yang tak kalah menariknya adalah cara para pengemudi perahu
mendayung perahu mereka. Mereka mendayung perahu tidak dengan menggunakan
tangan mereka, melainkan dengan menggunakan kedua kaki mereka. Wow, keren
sekali.
Panorama
yang disuguhan benar-benar memikat. Akhirnya kami sampai di mulut sebuah gua.
Ternyata dalam perjalanan ini kami akan melalui tiga buah gua. Yang pertama
bernama gua Hang Ca, dengan panjang sekitar 127m; kemudian gua Hang Giua,
sepanjang 70m; dan gua ketiga dan yang terpendek yaitu Hang Cuoi, kurang lebih
40m panjangnya.
Saat
memasuki gua pertama kami harus menundukkan kepala agar tidak terantuk batu di
gua itu. Di dalam kegelapan kami dapat melihat stalagtit yang tidak terlalu
banyak. Gua kedua yang agak kecil juga memiliki tidak begitu banyak stalagtit.
Sebenarnya gua-gua yang ada di Indonesia jauh lebih indah dan menarik. Gua
ketiga cukup pendek dan ketika keluar dari gua tersebut perahu tidak dapat
meneruskan perjalanannya. Seolah-olah sungai yang kami susuri berhenti di situ.
Di penghujung gua banyak terdapat perahu-perahu penduduk yang rupanya sedang
menjajakan barang-barang dagangan mereka.
Pulang ke
dermaga, kita akan melalui jalur yang sama, tetapi pemandangan yang tersaji tetap menarik .
Indonesia
bukannya tak punya pemandangan yang sebagus ini bahkan lebih bagus, namun
tmungkin belum dikelola dan dipasarkan dengan baik.
Diakhir
kunjungan , saya sepakat kalau mengunjungi Hanoi dan sekitarnya adalah
kunjungan bak menembus waktu ke masa lalu. kawasan ini memang kawasan yang tua
tetapi bersih, lestari, sibuk dan dinamis, ramah dan kaya kuliner – makanan
pinggir kalan yang enak. Dua kata yang pas UNIK dan INDAH !
Waktu 5 hari
4 malam rasanya tak cukup untuk menjelajahi kota Hanoi yang mempertahankan
kelestarian dan kebersihan kawasan kota tuanya dan mengunjungi berbagai
situs-situs bersejarah, merasakan kenikmatan kopinya, menikmati keindahan alam
di kota2 di dekat Hanoi ditambah dengan wisata kuliner.
Kalau ada
kesempatan, ingin rasanya datang kembali...


















