Kamis, 28 Desember 2017

CATATAN WISATA : HANOI….BAK MENEMBUS WAKTU KE MASA LALU






Hanoi, ibukota Vietnam ini dari dulu selalu menjadi salah satu kota yang saya idam-idamkan untuk kunjungi. Mungkin karena banyak mendengar cerita dari teman-teman yang pernah kesana, tentang keunikan kota ini, biaya hidup dan penginapan yang murah dan juga kulinernya yang eksotis. Belum lagi daya tarik indahnya beberapa wisata alam disekitar kota dan juga sedikit diluar kota. Memang Vietnam Utara di mana Hanoi berada sangat kaya dengan keindahan alam yang sudah diakui menjadi pusaka dunia, seperti gugus batuan di lautan (Halong Bay) dan juga gugus batuan di sungai ( Tam Coc) yang juga saya kunjungi..

Kesempatan yang pernah saya peroleh untuk mengunjungi Hanoi, kota tempat Ho Chi Minh ( sang negarawan yang memproklamirkan kemerdekaan Vietnam itu disemayamkan)   di    tahun 2013, rasanya selalu saya kenang dan ingin saya ulang…he…he..he  
Hanoi mempunyai ciri tersendiri dibandingkan Ho Chi Minh .  Kalau Ho Chi Minh City  sarat dengan sentuhan arsitektur Perancisnya, ibu kota Vietnam ini menunjukan pengaruh arsitektur Cina sangat dominan terasa. Berada di kawasan kota tuanya yang terkenal dengan sebutan ‘The Old Quarter’, kita diajak  berkelana menembus waktu ke masa lalu. Kawasan ini terjaga dengan baik, memberikan nuansa tersendiri dengan jalan-jalan sempitnya, bangunan dengan perpaduan antara arsitektur kolonial dan Cina. Dikawasan ini ada  danau Hoan Kiem dan taman-tamannya, membuat kita tidak bosan melangkahkan kaki menyusurinya.




Bangunan bersejarah, adalah salah satu perhatian saya. Di kawasan ini ada bangunan-bangunan bersejarahnya, diantaranya St. Joseph’s Cathedral yang dibangun pada masa kekuasaan Perancis tahun 1886. Gereja berasitektur neo-Gothic dan berwarna suram ini berdiri tegak menghiasi kota dan setiap jam siap mendentangkan loncengnya.



Sementara daya tarik utama Old Quarter boleh dibilang adalah Hoan Kiem Lake, danau yang dipercantik dengan pagoda kecil yang dinamakan Turtle Tower ditengah-tengahnya. Taman di sekitar danau menjadi tempat yang nyaman untuk berolah-raga menghidyp udara segar di pagi hari atau duduk-duduk santai menikmati kota. Tak heran taman danau ini tidak pernah sepi pengunjung dari pagi hingga malam.



Melengkapi perjalanan ke Hanoi, saya memilih kunjungan ke Halon Bay yang soohor itu dengan gugus batuan di laut dan juga mengunjungi Tam Coc dengan gugus batuan di sungai.

Halong Bay atau Teluk Halong  sangat indah dan unik. Tak heran kalau situs ini menjadi andalan wisata Vietnam utara dan juga merupakan salah satu UNESCO World Heritage Site . Terletak diluar kota Hamoi, berjarak lebih kurang 3,5 jam naik mobil. Teluk yang dalam bahasa Vietnam berarti Teluk Naga yang sedang turun ini memiliki 1.969 pulau-pulau batu kapur yang menjulang spektakuler di laut dan sebagian besarnya memiliki gua dengan stalaktit dan stalagmit yang juga tak kalah menariknya. Menyusuri bukit kapur di laut, keluar masuk gua, diatas kapal kayu dan kemudian juga menggunakan kayak menjadipengalaman yang menarik untuk saya.   



Bermalam di Halong, perjalanan di teruskan menuju Hoa Lu dan Tam Coc. Perjalanan menuju Hoa Lu Tam Coc. Pemandangan pun mulai berubah, kami mulai melihat deretan bukit nan hijau di kejauhan. Semakin lama semakin cantik.    

Hoa Lu adalah ibukota kerajaan kuno Vietnam. Di tempat ini masih terdapat dua istana dari raja Dinh dan raja Le. Tempat ini besar sekali.  Dan dikelilingi bukit-bukit karst yang hijau dan cantik sekali.  




Setelah   makan siang disebuah  restoran  di seberang sungai yang dikenal dengan nama sungai Ngo Dong ,  kita bisa  menyusuri sungai dengan perahu2 (sewa)  yang sudah siap  di sepanjang sungai  

Satu perahu cukup untuk dua sampai tiga orang.  Pengemudi perahu, kebanyakan wanita desa.  Selain pemandangan bukit-bukit karst dan persawahan yang ada di kiri dan kanan sungai, pemandangan lain yang tak kalah menariknya adalah cara para pengemudi perahu mendayung perahu mereka. Mereka mendayung perahu tidak dengan menggunakan tangan mereka, melainkan dengan menggunakan kedua kaki mereka. Wow, keren sekali.



Panorama yang disuguhan benar-benar memikat. Akhirnya kami sampai di mulut sebuah gua. Ternyata dalam perjalanan ini kami akan melalui tiga buah gua. Yang pertama bernama gua Hang Ca, dengan panjang sekitar 127m; kemudian gua Hang Giua, sepanjang 70m; dan gua ketiga dan yang terpendek yaitu Hang Cuoi, kurang lebih 40m panjangnya.

Saat memasuki gua pertama kami harus menundukkan kepala agar tidak terantuk batu di gua itu. Di dalam kegelapan kami dapat melihat stalagtit yang tidak terlalu banyak. Gua kedua yang agak kecil juga memiliki tidak begitu banyak stalagtit. Sebenarnya gua-gua yang ada di Indonesia jauh lebih indah dan menarik. Gua ketiga cukup pendek dan ketika keluar dari gua tersebut perahu tidak dapat meneruskan perjalanannya. Seolah-olah sungai yang kami susuri berhenti di situ. Di penghujung gua banyak terdapat perahu-perahu penduduk yang rupanya sedang menjajakan barang-barang dagangan mereka.



Pulang ke dermaga, kita akan melalui jalur yang sama, tetapi  pemandangan yang tersaji tetap menarik .
Indonesia bukannya tak punya pemandangan yang sebagus ini bahkan lebih bagus, namun tmungkin belum dikelola dan dipasarkan dengan baik.

Diakhir kunjungan , saya sepakat kalau mengunjungi Hanoi dan sekitarnya adalah kunjungan bak menembus waktu ke masa lalu. kawasan ini memang kawasan yang tua tetapi bersih, lestari, sibuk dan dinamis, ramah dan kaya kuliner – makanan pinggir kalan yang enak. Dua kata yang pas UNIK dan INDAH !

Waktu 5 hari 4 malam rasanya tak cukup untuk menjelajahi kota Hanoi yang mempertahankan kelestarian dan kebersihan kawasan kota tuanya dan mengunjungi berbagai situs-situs bersejarah, merasakan kenikmatan kopinya, menikmati keindahan alam di kota2 di dekat Hanoi ditambah dengan wisata kuliner.

Kalau ada kesempatan, ingin rasanya datang kembali...

Senin, 09 Oktober 2017

ENERGI CINTA KASIH






Selalu ada cerita  hidup yang menarik dalam setiap perjumpaan. 
Cerita ini tentang perjumpaan seorang wanita paruh baya,  Putu Sarini – biasa disapa dengan nama pendek Luhtu, dengan  Uti (ibu saya – 82 th) di sebuah acara , keluarga kami, yang ikut dihadiri oleh Luhtu  ( @ Villa Atas Ombak Seminyak Bali, 7/10/2017)

Uti, memang tipe orang yang cepat bersahabat. Dan setiap berjumpa dengan teman dan sahabat anak2nya, bahkan dengan orang lain sekalipun, selalu bersikap bersahabat dan memperlakukan mereka sebagai anak2 yang sangat dicintainya.

Begitu juga, suasananya ketika berjumpa dengan Putu Sarini alias Luhtu ini. Sesaat setelah berkenalan, saling menyapa ramah, bercakap-cakap ringan, kemudian terjadi lompatan rasa tampak dalam wujud, wanita ramah , asli Bali    inipun lalu  duduk bersimpuh bercakap seakan sudah lama saling mengenal dan lama tak jumpa.    





Sesudahnya, Luhtu berujar, saya rindu punya ibu seperti Uti. Dan, Kemudian dari ceritanya kepada saya, Luhtu menceritakan hubungannya yang tidak terlalu dekat pada ibunya. Ia menghormati ibunya tetapi tak bisa dekat dihati karena pengalamannya bertumbuh dalam keluarga yang karena  tradisi adat dan budaya, membuat anak laki2 lebih dianggap bernilai sehingga memperoleh perhatiam dan perlakuan  yang yang terasa berlebih daripada anak perempuan.

Tampak ada kerinduan yang dalam, merasakan sentuhan cinta kasih ibu. Diakhir percakapan ia mengatakan, ingin tetap berkomunikasi dengan Uti dan menganggapnya juga sebagai ibunya.

Peristiwa ini menunjukan bahwa ketulusan  Cinta Kasih terhadap sesama memiliki gelombang energi yang sangat kuat untuk menyembuhkan luka batin sekalipun.   Tanpa kata bahkan hanya tatapan saja  dapat dirasakan sampai kedalaman lubuk hati.

Sesudah percakapan itu, wajah ibu  - orang tua tingga dari  dua anak laki-laki ini yang  membesarkan mereka  dengan mengelola bisnis makanan Luhtu’s Café, di Sindu Beach ini (kawasan Sanur Bali)  terlihat  cerah. 



Oh ya…. Kalau kebetulan ke Bali, datanglah ke Luhtu;s Café di Sindu Beach. Apple pie nya juara deh……! Mungkin  apple pie itu dan juga kue serta makanan lainnya diolehnya dengan Cinta Kasih nya pada keluarga dan pada kehidupan.











Sabtu, 16 September 2017

Mau mulai dari yang kecil dan sederhana – Cerita tentang PONDOK ANAK BANGSA-





Rasanya bangsa kita saat ini sedang tertatih menemukan kekuatannya kembali  sebagai satu bangsa yang menerima berbagai kekayaan sebagai keruniaNYA. Kekayaan alam, kekayaan spiritual, kekayaan semangat kebangsaan , kekayaan kreatifitas  seni budaya yang beragam dalam satu kesatuan. Keberagaman, yang semula adalah kekakayaan  dan  sumber kekuatan  bangsa ini, dapat dengan mudah diplintir menjadi sumber perpecahan yang nyaris memporak-porandakan Indonesia.

Tidak itu saja, kitapun semakin menjadi begitu prihatin melihat berbagai permasalahan sosial dan kekerasan serta kejahatan pada anak yang silih berganti terjadi.   disekitar kita . Narkoba, tawuran, keterlibatan dalam aksi kekerasan dan lain sebagainya. Jasus terbaru kebih dari 50 anak jatuh sebagai korban sejenis obat penenang di Jendari, yang baru terkuak beberapa hari lalu. Mengerikan !
Rasanya , apabila bangsa ini tidak melawannya bersama-sama, baik pemerintah maupun rakyatnya  secara segera maka kehancuran bukan lagi sebuah ancaman bagi bangsa ini. Tetapi sudah menjadi sebuah kepastian. Secara perlahan tetapi pasti Indonesia dihancurkan mulai dari generasi mudanya 

Banyak pemikiran dan diskusi yang diselenggarakan mencari solusi mengatasi hal ini . Banyak pula spanduk  , slogan serta event yang diselenggarakan untuk mengingat public. . Ajakan mengatasinya bersama dan berbagai gimmickpun dilakukan. Ada berbagai pilihan. Utamanya,  masalah tersebut harus dirasakan menjadi masalah oleh semua tatanan dan komponen bangsa ini agar semua mau bahu membahu bersama-sama, mengupayakan perbaikan dan kembali ke kekuatan kebersamaan.

Kita masing-masing harus memutuskan , baik secara sendiri-sendiri mauoun bersama dalam sebuah komunitas, bentuk kepedulian dan kontribusi dalam memerangi situasi ini. Tak perlu besar, sebuah gerakan kecil, bersama disemua tempat pasti akan menghasilkan dampak besar.


Salah satu yang menjadi perhatian saya, dan menjadi sebuah warisan dan  semangat keluarga adalah semangat  nasionalisme, cinta bangsa dalam sebuah nafas yang sama dengan lecintaan pada Tuhan dan sesama. Ini yang kemudian menjadi alasan saya dan adik2, mendirikan Pondok Anak Bangsa , sebuah komunitas bagi anak-anak  , membangun ppengalaman kebangsaan.

Kenapa anak-anak ? Karena merekalah yang akan menjadi masa depan bangsa ini. Harus ada kesempatan bagi anak-anak Indonesia  untuk bertumbuh sehat, cerdas, mampu mengekspresikan diri dan memiliki jiwa yang gembira dan merdeka. pengakam ini  tentu akan mempengaruhi mental, spiritual dan jasmani mereka di masa depan.

Kami memilih mendirikan komunitas itu secara sederhana dan kecil,, di sebuah pondok sederhana, seluas +/- 140 m2,  ditengah kampung Pela Mampang, yang pernah menjadi tempat tinggal keluarga J.K.Tumakaka.    Tempat ini menjadi pilihan, selain karena rumah tersebut sudah tidak didiami lagi oleh keluarga kami, juga karena ada kerinduan berbagi berbagai pengalaman bertumbuh di tempat ini kepada masyarakat sekitar.


Kami menghabiskan masa kecil , remaja dan masa pendidikan meneganh tinggi di rumah ini. Kami mendiami rumah itu dari tahun 1971 – 2009. Saya adalah anggota keluarga yang paling akhir meninggalkan rumah itu. Masyarakat sekitar, dulu,  mayoritas asal  betawi. Sekarang sudah bercampur dengan penduduk  pendatang. Dulu pada umumnya beragama muslim. Hanya sedikit sekali yang beragama non muslim. Disekitar saya hanya ada tiga keluarga protestan, dua keluarga katolik dan satu keluarga turunan tionghoa. Tetapi  kehidupan masyarakatnya sangat harmonis, saling menghormati dan penuh kedamaian.

Suasana sangat guyub. Saya selalu mengingat dengan jelas bagaimana hebohnya perayaan Lebaran dan Natal di masa-masa dulu kala. Silahturahmi sangat kental. Di hari Natal. Para sahabat betawi dan hakis-haji disekitar kami, selalu datang berkunjung kerumah, membawa hasil kebunnya, rambutam dan cempedak. Kalau musim haji, ayah saya pasti sibuk meminjamkan mobilnya dan menyetirnya sendiri, mengantar para calon haji dan keluarganya menuju Pondok Gede tempat pemberangkatan haji.

Apabila ada  acara syukuran/tahlilan, ayah saya yang seorang Kristen saleh, pasti juga masuk dalam daftar undangan mereka. Ia akan datang dengan kostumnya yang dilengkapi kopiah, duduk ditempat paling luar ikut menyerukan dan membesarkan Asma Allah dengn mengucap dzikir La Illahailallah, dan dengan keras beliau  akan ikut mengucapkan kata Amin, setiap selesai sebuah doa di bacakan. Dan ia berkata : “Apa sa;ahnya kita mengaminkan doa yang pasti baik !”
Memang berangsur hal yang dirasa baik ini kemudian mulai berkekurang, karena berbagai kondisi.
Tetapi saya sendiri masih harus bersaksi tentang sebuah pengalaman berkesan . Di tahun 1999 – 2001 ketika banyak kerusuhan diberbagai daerah Indonesia, seakan-akan berlatar belakang agama, saya sudah tinggal sendirian di dirumah itu. Pada saat itu, saya dikunjungi pak haji Hamim, tetangga betawi sesepuh didaerah itu. Beliau datang hanya mau mengatakan kata2 yang sangat menguatkan dan penuh semangat kebangsaan : “Mba Didit (begitu beliau memanggil saya), jangan takut, kami tidak sama seperti orang2 yang terlibat konflik itu. Kami akan jaga mbak Didit”. Pengalaman yang sangat hebat untuk saya , yang tinggal sendiri dan tidak seiman dengan mereka – rasa sebangsa jauh lebih kuat ketimbang perbedaan yang ada !

Pengalaman lain adalah pengalaman berjuang dibidang pendidikan. Kami semua, lima orang kakak beradik sekeluarga, besar dalam keluarga yang sangat sederhana tetapi tidak pernah berkekurangan. Sekolah adalah sebuah cerita perjuangan yang cukup berat tetapi akan kami kenang dengan senang karena prestasi. Membaca adalah aktifitas kegilaan kami semua, sehingga rumah kecil itu dipenuhi buku, Sehingga pada suatu hari, kami sempat mendengar percakapan dari dua pencuri (yang biasa mencuri dirumah-rumah di kampung itu) berkata : “ Kalau rumah ini sih…isinya buku melulu”! ha..ha..ha…
Pengetahuan  menjadi kesenangan kami. Walaupun demikian, kami semua, rata-rata, adalah anak gaul dikampung itu yang selalu ada di mana anak kampung berkumpul.  Main congklak tanah, gala asin, main samse dan gebokan, main bola di lapangan atau mancing di empang berlumpur. Bahkan disetiap sore hari, saya dan salah satu adik perempuan pasti ikut main  rebana dan bernyanyi “Ya Danna ya Danna: lagu qasidah yang paling popular waktu itu !

Pengalaman lengkap, sangat menyenangkan sebagai anak bangsa !,  Membahas kenapa hilang  semua rasa kebersamaan sebagai satu bangsa yang memiliki perbedaan tetapi mampu bersatu dan saling menhargai, mungkin akan bisa menjadi cerita dan tulisan tersendiri.

Yang penting bagaimana pengalaman indah itu kembali hidup di masa kini. Mengajak anak2 di masa kini memahami bangsanya. Mengajak mereka bersemangat bersekolah dan belajar. Menularkan semangat membangun diri. Anak kampungpun bisa berprestasi tinggi dan mendunia.


Memastikan pengalaman tersebut, sedikit demi sedikit dapat juga terbangun di masa kini, sejak didirikan di tahun 2013, bulan Oktober, Pondok Anak Bangsa menyelenggarakan berbagai kegiatan dengan harapan anak-anak punya kesempatan menambah pengetahuannya, bisa bermain dengan sehat dan terbimbing dan  menjadi anak cerdas dan kreatif   dan tetap berakar pada kepribadian Indonesia sesuai dengan nilai-nilai yang dikandung dalam Pancasila  

Untuk itu, , di PAB, tersedia   fasilitas baca anak untuk membangun pengetahuan umum dan wawasan spiritualitas, kebangsaan dan cinta damai, trampil dan mandiri. Pojok baca terbuka buat siapa saja , mulai hari Selasa – Sabtu setiap minggunyam dari pk -0.00 – 11.00 dan kemudian pk, 14.00 – 16.00. 


Dengan jadwal yang sama dengan Pokok Baca, ada fasilitas untu Pokol Main. Maiann yang tersedia adalah mainan berkelompok dan membangun kebersamaan dan pengetahuan. Diantaranya main bekel. Conglak, Scarble, Halma, catur, Negeri Ko,mpak (semacam ular tangga dengan konten kebangsaan).

Setiap Sabtu ada  berbagai kegiatan yang membantu anak dan remaja untuk mampu mengekspresikan dirinya , cerdas , kreatif dan memiliki jiwa yang merdeka. Dari pk -9.00 -  pk 14.00 ada berbagai pilihan kegiatan, seperti Menggambar, melukis, menyanyi, main music anggklung  atau berlatih cerdas dengan catur dan Bahasa Inggris.
Kegiatan ketrampilan ini, semuanya, secara maksimum juga digunakan untuk membangun wawasan kecintaan pada budaya bangsa dan mengenal kekayaan budaya bangsanya. Misalnya lagu-2 yang dipilih untuk angklung dan nyanyi dipilih secara bergilir lagu dari seluruh daerah Indonesia, sambil menceritakan tentang daerah tersebut.




Hari besar buat PAB yang selalu kita rayakan adalah Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei. Sebagai tanda bahwa apa yang kita lakukan ini adalah sebuah semangat untuk bangkit dan menjaga semangat kejuangan para pendahulu bangsa ini. Di setiap hari lebaranm anak-anak diajak menyiapkan bingkisan buat  warga sekampung, Diaiapkan bersama dan yang membagikan adalah anak-anak non muslim ditemani teman2 muslim. Diakhir tahunm anak2 diajak membuka celengannya untuk dipakai berwisata edukasi.

Sebagai pengajar, PAB terbuka bagi keterlibatan relawan-relawan sesuai kompetensinya yang mau berbagi di tempat ini.

Untuk mengawasi anak-anak, PAB beruntung karena sudah terbentuk komunitas relawan pendamping anak-anak yang adalah beberapa ibu dari sekitar. Nerekalah yang sehari-hari berada dan mengelola tempat ini. Dibentuk organisasi kevil untuk para relawan. Ada ibu Dra. Maemunah (Koordinator), Ibu Mega (Adm/Keu), Ibu Dra. Suhani (pendamping). 



Kalau di tanya dari mana modalnya ? Saya mau katakan, modal utama adalah hati , kepeduliaan dan kebersamaan. Saya dan adik2 sekeluarga nerintis. Tetapi yang terlibat ada banyak . Banyak sahabat yang mau ikut mendukung baik daya maupun dana, Semua mengalir begitu saja. Datang dan pergi. Tetapi Tuhan  sumber kebaikan menjamin jalannya sebuah kebaikan sampai pada alamatnya dengan baik.

Setelah hampir 4 tahun berkegiatan dilokasi tersebut, PAB sudah menjadi rumah kedua bagi banyak anak disekitar, Pulang sekolah atau ketika mereka membutuhkan tempat bercerita, mereka datang kerumah PAB, membaca, bermai atau[un sekedar bercakap dengan ibu Suhani yang bertugas mendampingi anak2. Cara mereka menghabiskan waktu senggang menjadi lebih terarah  Arah yang ingin dicapai adalah anak-anak yang kreatif, cerdas dan ceria dengan dasar  nilai 2 spiritualitas dan semangat , kecintaan pada Tuhan, bangsa dan sesama.



Saat ini PAB sudah mulai memasuki tahap memelihara dn mempertahankan, yangmungkin mengalami tantangan tersendiri bahkan  mungkin tantangannya lebih berat daripada sekedar memulai. Tapi semangat kami masih sama.

Melalui cerita ini, saya ingin berbagi dan membangun semangat keterlibatan dan kepeduliaan kita pada anak-anak bangsa ini. Tidak perlu yang besar, mulailah dari yang kecil tentu dengan pertolonganNYA ,  akan bertahan dan mungin menjadi besar. Tapi yang penting memberi dampak.  Mulai dari apa yang ada. Lakukan bersama-sama  dan terbuka pada keterlibatan orang-orang lain yang mempunyai keprihatinan yang sama.

Semoga menjadi inspirasi !