Rasanya bangsa kita
saat ini sedang tertatih menemukan kekuatannya kembali sebagai satu bangsa yang menerima berbagai
kekayaan sebagai keruniaNYA. Kekayaan alam, kekayaan spiritual, kekayaan
semangat kebangsaan , kekayaan kreatifitas seni budaya yang beragam dalam satu kesatuan. Keberagaman,
yang semula adalah kekakayaan dan sumber kekuatan bangsa ini, dapat dengan mudah diplintir
menjadi sumber perpecahan yang nyaris memporak-porandakan Indonesia.
Tidak itu saja,
kitapun semakin menjadi begitu prihatin melihat berbagai permasalahan sosial
dan kekerasan serta kejahatan pada anak yang silih berganti terjadi. disekitar kita . Narkoba, tawuran,
keterlibatan dalam aksi kekerasan dan lain sebagainya. Jasus terbaru kebih dari
50 anak jatuh sebagai korban sejenis obat penenang di Jendari, yang baru
terkuak beberapa hari lalu. Mengerikan !
Rasanya , apabila
bangsa ini tidak melawannya bersama-sama, baik pemerintah maupun rakyatnya secara segera maka kehancuran bukan lagi sebuah
ancaman bagi bangsa ini. Tetapi sudah menjadi sebuah kepastian. Secara perlahan
tetapi pasti Indonesia dihancurkan mulai dari generasi mudanya
Banyak pemikiran
dan diskusi yang diselenggarakan mencari solusi mengatasi hal ini . Banyak pula
spanduk , slogan serta event yang
diselenggarakan untuk mengingat public. . Ajakan mengatasinya bersama dan
berbagai gimmickpun dilakukan. Ada berbagai pilihan. Utamanya, masalah tersebut harus dirasakan menjadi masalah
oleh semua tatanan dan komponen bangsa ini agar semua mau bahu membahu
bersama-sama, mengupayakan perbaikan dan kembali ke kekuatan kebersamaan.
Kita masing-masing
harus memutuskan , baik secara sendiri-sendiri mauoun bersama dalam sebuah
komunitas, bentuk kepedulian dan kontribusi dalam memerangi situasi ini. Tak
perlu besar, sebuah gerakan kecil, bersama disemua tempat pasti akan
menghasilkan dampak besar.
Salah satu yang
menjadi perhatian saya, dan menjadi sebuah warisan dan semangat keluarga adalah semangat nasionalisme, cinta bangsa dalam sebuah nafas
yang sama dengan lecintaan pada Tuhan dan sesama. Ini yang kemudian menjadi
alasan saya dan adik2, mendirikan Pondok Anak Bangsa , sebuah komunitas bagi
anak-anak , membangun ppengalaman
kebangsaan.
Kenapa anak-anak ?
Karena merekalah yang akan menjadi masa depan bangsa ini. Harus ada kesempatan
bagi anak-anak Indonesia untuk bertumbuh
sehat, cerdas, mampu mengekspresikan diri dan memiliki jiwa yang gembira dan
merdeka. pengakam ini tentu akan
mempengaruhi mental, spiritual dan jasmani mereka di masa depan.
Kami memilih
mendirikan komunitas itu secara sederhana dan kecil,, di sebuah pondok
sederhana, seluas +/- 140 m2, ditengah
kampung Pela Mampang, yang pernah menjadi tempat tinggal keluarga
J.K.Tumakaka. Tempat ini menjadi
pilihan, selain karena rumah tersebut sudah tidak didiami lagi oleh keluarga
kami, juga karena ada kerinduan berbagi berbagai pengalaman bertumbuh di tempat
ini kepada masyarakat sekitar.
Kami menghabiskan
masa kecil , remaja dan masa pendidikan meneganh tinggi di rumah ini. Kami mendiami
rumah itu dari tahun 1971 – 2009. Saya adalah anggota keluarga yang paling
akhir meninggalkan rumah itu. Masyarakat sekitar, dulu, mayoritas asal betawi. Sekarang sudah bercampur dengan
penduduk pendatang. Dulu pada umumnya
beragama muslim. Hanya sedikit sekali yang beragama non muslim. Disekitar saya
hanya ada tiga keluarga protestan, dua keluarga katolik dan satu keluarga
turunan tionghoa. Tetapi kehidupan
masyarakatnya sangat harmonis, saling menghormati dan penuh kedamaian.
Suasana sangat
guyub. Saya selalu mengingat dengan jelas bagaimana hebohnya perayaan Lebaran
dan Natal di masa-masa dulu kala. Silahturahmi sangat kental. Di hari Natal.
Para sahabat betawi dan hakis-haji disekitar kami, selalu datang berkunjung
kerumah, membawa hasil kebunnya, rambutam dan cempedak. Kalau musim haji, ayah
saya pasti sibuk meminjamkan mobilnya dan menyetirnya sendiri, mengantar para
calon haji dan keluarganya menuju Pondok Gede tempat pemberangkatan haji.
Apabila ada acara syukuran/tahlilan, ayah saya yang
seorang Kristen saleh, pasti juga masuk dalam daftar undangan mereka. Ia akan
datang dengan kostumnya yang dilengkapi kopiah, duduk ditempat paling luar ikut
menyerukan dan membesarkan Asma Allah dengn mengucap dzikir La Illahailallah,
dan dengan keras beliau akan ikut
mengucapkan kata Amin, setiap selesai sebuah doa di bacakan. Dan ia berkata :
“Apa sa;ahnya kita mengaminkan doa yang pasti baik !”
Memang berangsur hal
yang dirasa baik ini kemudian mulai berkekurang, karena berbagai kondisi.
Tetapi saya sendiri
masih harus bersaksi tentang sebuah pengalaman berkesan . Di tahun 1999 – 2001
ketika banyak kerusuhan diberbagai daerah Indonesia, seakan-akan berlatar
belakang agama, saya sudah tinggal sendirian di dirumah itu. Pada saat itu,
saya dikunjungi pak haji Hamim, tetangga betawi sesepuh didaerah itu. Beliau
datang hanya mau mengatakan kata2 yang sangat menguatkan dan penuh semangat
kebangsaan : “Mba Didit (begitu beliau memanggil saya), jangan takut, kami
tidak sama seperti orang2 yang terlibat konflik itu. Kami akan jaga mbak
Didit”. Pengalaman yang sangat hebat untuk saya , yang tinggal sendiri dan
tidak seiman dengan mereka – rasa sebangsa jauh lebih kuat ketimbang perbedaan
yang ada !
Pengalaman lain
adalah pengalaman berjuang dibidang pendidikan. Kami semua, lima orang kakak
beradik sekeluarga, besar dalam keluarga yang sangat sederhana tetapi tidak
pernah berkekurangan. Sekolah adalah sebuah cerita perjuangan yang cukup berat
tetapi akan kami kenang dengan senang karena prestasi. Membaca adalah aktifitas
kegilaan kami semua, sehingga rumah kecil itu dipenuhi buku, Sehingga pada
suatu hari, kami sempat mendengar percakapan dari dua pencuri (yang biasa
mencuri dirumah-rumah di kampung itu) berkata : “ Kalau rumah ini sih…isinya
buku melulu”! ha..ha..ha…
Pengetahuan menjadi kesenangan kami. Walaupun demikian, kami
semua, rata-rata, adalah anak gaul dikampung itu yang selalu ada di mana anak
kampung berkumpul. Main congklak tanah,
gala asin, main samse dan gebokan, main bola di lapangan atau mancing di empang
berlumpur. Bahkan disetiap sore hari, saya dan salah satu adik perempuan pasti
ikut main rebana dan bernyanyi “Ya Danna
ya Danna: lagu qasidah yang paling popular waktu itu !
Pengalaman lengkap,
sangat menyenangkan sebagai anak bangsa !,
Membahas kenapa hilang semua rasa
kebersamaan sebagai satu bangsa yang memiliki perbedaan tetapi mampu bersatu
dan saling menhargai, mungkin akan bisa menjadi cerita dan tulisan tersendiri.
Yang penting
bagaimana pengalaman indah itu kembali hidup di masa kini. Mengajak anak2 di
masa kini memahami bangsanya. Mengajak mereka bersemangat bersekolah dan
belajar. Menularkan semangat membangun diri. Anak kampungpun bisa berprestasi
tinggi dan mendunia.
Memastikan
pengalaman tersebut, sedikit demi sedikit dapat juga terbangun di masa kini, sejak
didirikan di tahun 2013, bulan Oktober, Pondok Anak Bangsa menyelenggarakan
berbagai kegiatan dengan harapan anak-anak punya kesempatan menambah
pengetahuannya, bisa bermain dengan sehat dan terbimbing dan menjadi anak cerdas dan kreatif dan
tetap berakar pada kepribadian Indonesia sesuai dengan nilai-nilai yang dikandung
dalam Pancasila
Untuk
itu, , di PAB, tersedia fasilitas baca anak untuk membangun
pengetahuan umum dan wawasan spiritualitas, kebangsaan dan cinta damai, trampil
dan mandiri. Pojok baca terbuka buat siapa saja , mulai hari Selasa – Sabtu setiap
minggunyam dari pk -0.00 – 11.00 dan kemudian pk, 14.00 – 16.00.
Dengan
jadwal yang sama dengan Pokok Baca, ada fasilitas untu Pokol Main. Maiann yang
tersedia adalah mainan berkelompok dan membangun kebersamaan dan pengetahuan.
Diantaranya main bekel. Conglak, Scarble, Halma, catur, Negeri Ko,mpak (semacam
ular tangga dengan konten kebangsaan).
Setiap
Sabtu ada berbagai kegiatan yang
membantu anak dan remaja untuk mampu mengekspresikan dirinya , cerdas , kreatif
dan memiliki jiwa yang merdeka. Dari pk -9.00 - pk 14.00 ada berbagai pilihan kegiatan,
seperti Menggambar, melukis, menyanyi, main music anggklung atau berlatih cerdas dengan catur dan Bahasa Inggris.
Kegiatan
ketrampilan ini, semuanya, secara maksimum juga digunakan untuk membangun
wawasan kecintaan pada budaya bangsa dan mengenal kekayaan budaya bangsanya. Misalnya
lagu-2 yang dipilih untuk angklung dan nyanyi dipilih secara bergilir lagu dari
seluruh daerah Indonesia, sambil menceritakan tentang daerah tersebut.
Hari
besar buat PAB yang selalu kita rayakan adalah Hari Kebangkitan Nasional 20
Mei. Sebagai tanda bahwa apa yang kita lakukan ini adalah sebuah semangat untuk
bangkit dan menjaga semangat kejuangan para pendahulu bangsa ini. Di setiap
hari lebaranm anak-anak diajak menyiapkan bingkisan buat warga sekampung, Diaiapkan bersama dan yang
membagikan adalah anak-anak non muslim ditemani teman2 muslim. Diakhir tahunm
anak2 diajak membuka celengannya untuk dipakai berwisata edukasi.
Sebagai
pengajar, PAB terbuka bagi keterlibatan relawan-relawan sesuai kompetensinya
yang mau berbagi di tempat ini.
Untuk
mengawasi anak-anak, PAB beruntung karena sudah terbentuk komunitas relawan
pendamping anak-anak yang adalah beberapa ibu dari sekitar. Nerekalah yang
sehari-hari berada dan mengelola tempat ini. Dibentuk organisasi kevil untuk
para relawan. Ada ibu Dra. Maemunah (Koordinator), Ibu Mega (Adm/Keu), Ibu Dra.
Suhani (pendamping).
Kalau
di tanya dari mana modalnya ? Saya mau katakan, modal utama adalah hati , kepeduliaan
dan kebersamaan. Saya dan adik2 sekeluarga nerintis. Tetapi yang terlibat ada
banyak . Banyak sahabat yang mau ikut mendukung baik daya maupun dana, Semua
mengalir begitu saja. Datang dan pergi. Tetapi Tuhan sumber kebaikan menjamin jalannya sebuah kebaikan
sampai pada alamatnya dengan baik.
Setelah
hampir 4 tahun berkegiatan dilokasi tersebut, PAB sudah menjadi rumah kedua
bagi banyak anak disekitar, Pulang sekolah atau ketika mereka membutuhkan
tempat bercerita, mereka datang kerumah PAB, membaca, bermai atau[un sekedar
bercakap dengan ibu Suhani yang bertugas mendampingi anak2. Cara mereka
menghabiskan waktu senggang menjadi lebih terarah Arah
yang ingin dicapai adalah anak-anak yang kreatif, cerdas dan ceria dengan
dasar nilai 2 spiritualitas dan semangat
, kecintaan pada Tuhan, bangsa dan sesama.
Saat ini PAB sudah mulai memasuki tahap memelihara
dn mempertahankan, yangmungkin mengalami tantangan tersendiri bahkan mungkin tantangannya lebih berat daripada
sekedar memulai. Tapi semangat kami masih sama.
Melalui cerita ini, saya ingin berbagi dan membangun
semangat keterlibatan dan kepeduliaan kita pada anak-anak bangsa ini. Tidak
perlu yang besar, mulailah dari yang kecil tentu dengan pertolonganNYA , akan bertahan dan mungin menjadi besar. Tapi
yang penting memberi dampak. Mulai dari
apa yang ada. Lakukan bersama-sama dan
terbuka pada keterlibatan orang-orang lain yang mempunyai keprihatinan yang
sama.
Semoga menjadi inspirasi !













