Sabtu, 16 September 2017

Mau mulai dari yang kecil dan sederhana – Cerita tentang PONDOK ANAK BANGSA-





Rasanya bangsa kita saat ini sedang tertatih menemukan kekuatannya kembali  sebagai satu bangsa yang menerima berbagai kekayaan sebagai keruniaNYA. Kekayaan alam, kekayaan spiritual, kekayaan semangat kebangsaan , kekayaan kreatifitas  seni budaya yang beragam dalam satu kesatuan. Keberagaman, yang semula adalah kekakayaan  dan  sumber kekuatan  bangsa ini, dapat dengan mudah diplintir menjadi sumber perpecahan yang nyaris memporak-porandakan Indonesia.

Tidak itu saja, kitapun semakin menjadi begitu prihatin melihat berbagai permasalahan sosial dan kekerasan serta kejahatan pada anak yang silih berganti terjadi.   disekitar kita . Narkoba, tawuran, keterlibatan dalam aksi kekerasan dan lain sebagainya. Jasus terbaru kebih dari 50 anak jatuh sebagai korban sejenis obat penenang di Jendari, yang baru terkuak beberapa hari lalu. Mengerikan !
Rasanya , apabila bangsa ini tidak melawannya bersama-sama, baik pemerintah maupun rakyatnya  secara segera maka kehancuran bukan lagi sebuah ancaman bagi bangsa ini. Tetapi sudah menjadi sebuah kepastian. Secara perlahan tetapi pasti Indonesia dihancurkan mulai dari generasi mudanya 

Banyak pemikiran dan diskusi yang diselenggarakan mencari solusi mengatasi hal ini . Banyak pula spanduk  , slogan serta event yang diselenggarakan untuk mengingat public. . Ajakan mengatasinya bersama dan berbagai gimmickpun dilakukan. Ada berbagai pilihan. Utamanya,  masalah tersebut harus dirasakan menjadi masalah oleh semua tatanan dan komponen bangsa ini agar semua mau bahu membahu bersama-sama, mengupayakan perbaikan dan kembali ke kekuatan kebersamaan.

Kita masing-masing harus memutuskan , baik secara sendiri-sendiri mauoun bersama dalam sebuah komunitas, bentuk kepedulian dan kontribusi dalam memerangi situasi ini. Tak perlu besar, sebuah gerakan kecil, bersama disemua tempat pasti akan menghasilkan dampak besar.


Salah satu yang menjadi perhatian saya, dan menjadi sebuah warisan dan  semangat keluarga adalah semangat  nasionalisme, cinta bangsa dalam sebuah nafas yang sama dengan lecintaan pada Tuhan dan sesama. Ini yang kemudian menjadi alasan saya dan adik2, mendirikan Pondok Anak Bangsa , sebuah komunitas bagi anak-anak  , membangun ppengalaman kebangsaan.

Kenapa anak-anak ? Karena merekalah yang akan menjadi masa depan bangsa ini. Harus ada kesempatan bagi anak-anak Indonesia  untuk bertumbuh sehat, cerdas, mampu mengekspresikan diri dan memiliki jiwa yang gembira dan merdeka. pengakam ini  tentu akan mempengaruhi mental, spiritual dan jasmani mereka di masa depan.

Kami memilih mendirikan komunitas itu secara sederhana dan kecil,, di sebuah pondok sederhana, seluas +/- 140 m2,  ditengah kampung Pela Mampang, yang pernah menjadi tempat tinggal keluarga J.K.Tumakaka.    Tempat ini menjadi pilihan, selain karena rumah tersebut sudah tidak didiami lagi oleh keluarga kami, juga karena ada kerinduan berbagi berbagai pengalaman bertumbuh di tempat ini kepada masyarakat sekitar.


Kami menghabiskan masa kecil , remaja dan masa pendidikan meneganh tinggi di rumah ini. Kami mendiami rumah itu dari tahun 1971 – 2009. Saya adalah anggota keluarga yang paling akhir meninggalkan rumah itu. Masyarakat sekitar, dulu,  mayoritas asal  betawi. Sekarang sudah bercampur dengan penduduk  pendatang. Dulu pada umumnya beragama muslim. Hanya sedikit sekali yang beragama non muslim. Disekitar saya hanya ada tiga keluarga protestan, dua keluarga katolik dan satu keluarga turunan tionghoa. Tetapi  kehidupan masyarakatnya sangat harmonis, saling menghormati dan penuh kedamaian.

Suasana sangat guyub. Saya selalu mengingat dengan jelas bagaimana hebohnya perayaan Lebaran dan Natal di masa-masa dulu kala. Silahturahmi sangat kental. Di hari Natal. Para sahabat betawi dan hakis-haji disekitar kami, selalu datang berkunjung kerumah, membawa hasil kebunnya, rambutam dan cempedak. Kalau musim haji, ayah saya pasti sibuk meminjamkan mobilnya dan menyetirnya sendiri, mengantar para calon haji dan keluarganya menuju Pondok Gede tempat pemberangkatan haji.

Apabila ada  acara syukuran/tahlilan, ayah saya yang seorang Kristen saleh, pasti juga masuk dalam daftar undangan mereka. Ia akan datang dengan kostumnya yang dilengkapi kopiah, duduk ditempat paling luar ikut menyerukan dan membesarkan Asma Allah dengn mengucap dzikir La Illahailallah, dan dengan keras beliau  akan ikut mengucapkan kata Amin, setiap selesai sebuah doa di bacakan. Dan ia berkata : “Apa sa;ahnya kita mengaminkan doa yang pasti baik !”
Memang berangsur hal yang dirasa baik ini kemudian mulai berkekurang, karena berbagai kondisi.
Tetapi saya sendiri masih harus bersaksi tentang sebuah pengalaman berkesan . Di tahun 1999 – 2001 ketika banyak kerusuhan diberbagai daerah Indonesia, seakan-akan berlatar belakang agama, saya sudah tinggal sendirian di dirumah itu. Pada saat itu, saya dikunjungi pak haji Hamim, tetangga betawi sesepuh didaerah itu. Beliau datang hanya mau mengatakan kata2 yang sangat menguatkan dan penuh semangat kebangsaan : “Mba Didit (begitu beliau memanggil saya), jangan takut, kami tidak sama seperti orang2 yang terlibat konflik itu. Kami akan jaga mbak Didit”. Pengalaman yang sangat hebat untuk saya , yang tinggal sendiri dan tidak seiman dengan mereka – rasa sebangsa jauh lebih kuat ketimbang perbedaan yang ada !

Pengalaman lain adalah pengalaman berjuang dibidang pendidikan. Kami semua, lima orang kakak beradik sekeluarga, besar dalam keluarga yang sangat sederhana tetapi tidak pernah berkekurangan. Sekolah adalah sebuah cerita perjuangan yang cukup berat tetapi akan kami kenang dengan senang karena prestasi. Membaca adalah aktifitas kegilaan kami semua, sehingga rumah kecil itu dipenuhi buku, Sehingga pada suatu hari, kami sempat mendengar percakapan dari dua pencuri (yang biasa mencuri dirumah-rumah di kampung itu) berkata : “ Kalau rumah ini sih…isinya buku melulu”! ha..ha..ha…
Pengetahuan  menjadi kesenangan kami. Walaupun demikian, kami semua, rata-rata, adalah anak gaul dikampung itu yang selalu ada di mana anak kampung berkumpul.  Main congklak tanah, gala asin, main samse dan gebokan, main bola di lapangan atau mancing di empang berlumpur. Bahkan disetiap sore hari, saya dan salah satu adik perempuan pasti ikut main  rebana dan bernyanyi “Ya Danna ya Danna: lagu qasidah yang paling popular waktu itu !

Pengalaman lengkap, sangat menyenangkan sebagai anak bangsa !,  Membahas kenapa hilang  semua rasa kebersamaan sebagai satu bangsa yang memiliki perbedaan tetapi mampu bersatu dan saling menhargai, mungkin akan bisa menjadi cerita dan tulisan tersendiri.

Yang penting bagaimana pengalaman indah itu kembali hidup di masa kini. Mengajak anak2 di masa kini memahami bangsanya. Mengajak mereka bersemangat bersekolah dan belajar. Menularkan semangat membangun diri. Anak kampungpun bisa berprestasi tinggi dan mendunia.


Memastikan pengalaman tersebut, sedikit demi sedikit dapat juga terbangun di masa kini, sejak didirikan di tahun 2013, bulan Oktober, Pondok Anak Bangsa menyelenggarakan berbagai kegiatan dengan harapan anak-anak punya kesempatan menambah pengetahuannya, bisa bermain dengan sehat dan terbimbing dan  menjadi anak cerdas dan kreatif   dan tetap berakar pada kepribadian Indonesia sesuai dengan nilai-nilai yang dikandung dalam Pancasila  

Untuk itu, , di PAB, tersedia   fasilitas baca anak untuk membangun pengetahuan umum dan wawasan spiritualitas, kebangsaan dan cinta damai, trampil dan mandiri. Pojok baca terbuka buat siapa saja , mulai hari Selasa – Sabtu setiap minggunyam dari pk -0.00 – 11.00 dan kemudian pk, 14.00 – 16.00. 


Dengan jadwal yang sama dengan Pokok Baca, ada fasilitas untu Pokol Main. Maiann yang tersedia adalah mainan berkelompok dan membangun kebersamaan dan pengetahuan. Diantaranya main bekel. Conglak, Scarble, Halma, catur, Negeri Ko,mpak (semacam ular tangga dengan konten kebangsaan).

Setiap Sabtu ada  berbagai kegiatan yang membantu anak dan remaja untuk mampu mengekspresikan dirinya , cerdas , kreatif dan memiliki jiwa yang merdeka. Dari pk -9.00 -  pk 14.00 ada berbagai pilihan kegiatan, seperti Menggambar, melukis, menyanyi, main music anggklung  atau berlatih cerdas dengan catur dan Bahasa Inggris.
Kegiatan ketrampilan ini, semuanya, secara maksimum juga digunakan untuk membangun wawasan kecintaan pada budaya bangsa dan mengenal kekayaan budaya bangsanya. Misalnya lagu-2 yang dipilih untuk angklung dan nyanyi dipilih secara bergilir lagu dari seluruh daerah Indonesia, sambil menceritakan tentang daerah tersebut.




Hari besar buat PAB yang selalu kita rayakan adalah Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei. Sebagai tanda bahwa apa yang kita lakukan ini adalah sebuah semangat untuk bangkit dan menjaga semangat kejuangan para pendahulu bangsa ini. Di setiap hari lebaranm anak-anak diajak menyiapkan bingkisan buat  warga sekampung, Diaiapkan bersama dan yang membagikan adalah anak-anak non muslim ditemani teman2 muslim. Diakhir tahunm anak2 diajak membuka celengannya untuk dipakai berwisata edukasi.

Sebagai pengajar, PAB terbuka bagi keterlibatan relawan-relawan sesuai kompetensinya yang mau berbagi di tempat ini.

Untuk mengawasi anak-anak, PAB beruntung karena sudah terbentuk komunitas relawan pendamping anak-anak yang adalah beberapa ibu dari sekitar. Nerekalah yang sehari-hari berada dan mengelola tempat ini. Dibentuk organisasi kevil untuk para relawan. Ada ibu Dra. Maemunah (Koordinator), Ibu Mega (Adm/Keu), Ibu Dra. Suhani (pendamping). 



Kalau di tanya dari mana modalnya ? Saya mau katakan, modal utama adalah hati , kepeduliaan dan kebersamaan. Saya dan adik2 sekeluarga nerintis. Tetapi yang terlibat ada banyak . Banyak sahabat yang mau ikut mendukung baik daya maupun dana, Semua mengalir begitu saja. Datang dan pergi. Tetapi Tuhan  sumber kebaikan menjamin jalannya sebuah kebaikan sampai pada alamatnya dengan baik.

Setelah hampir 4 tahun berkegiatan dilokasi tersebut, PAB sudah menjadi rumah kedua bagi banyak anak disekitar, Pulang sekolah atau ketika mereka membutuhkan tempat bercerita, mereka datang kerumah PAB, membaca, bermai atau[un sekedar bercakap dengan ibu Suhani yang bertugas mendampingi anak2. Cara mereka menghabiskan waktu senggang menjadi lebih terarah  Arah yang ingin dicapai adalah anak-anak yang kreatif, cerdas dan ceria dengan dasar  nilai 2 spiritualitas dan semangat , kecintaan pada Tuhan, bangsa dan sesama.



Saat ini PAB sudah mulai memasuki tahap memelihara dn mempertahankan, yangmungkin mengalami tantangan tersendiri bahkan  mungkin tantangannya lebih berat daripada sekedar memulai. Tapi semangat kami masih sama.

Melalui cerita ini, saya ingin berbagi dan membangun semangat keterlibatan dan kepeduliaan kita pada anak-anak bangsa ini. Tidak perlu yang besar, mulailah dari yang kecil tentu dengan pertolonganNYA ,  akan bertahan dan mungin menjadi besar. Tapi yang penting memberi dampak.  Mulai dari apa yang ada. Lakukan bersama-sama  dan terbuka pada keterlibatan orang-orang lain yang mempunyai keprihatinan yang sama.

Semoga menjadi inspirasi !




Senin, 11 September 2017

Tenun Ikat Sintang, Kekayaan Budaya Indonesia Warisan Leluhur Suku Dayak Sintang






Kain Tenun Sintang, selalu dalam angan2 saya, sebagai seorang yang gemar /pemerhati kain tenun Indonesia.  Hari ini (11/09/2017) saya memperoleh koleksi pertama kain tenun Sintang. Seorang teman  kantor yang melakukan perjalanan ke Sintang Kalbar,  (Mr. Willie Smits)  berkenan dititipi kain tenun Sintang , Hanya yada satu kata…menggembirakan !

Kain Tenun Sintang


Ada begitu banyak ragam tenun di Indonesia yang sangat kaya motif dan beragam cara membuatnya. Dan banyak pula jenis kain tenun ini yang sudah mulai langka  di temukan di nusantara ini. Salah satunya adalah   kain tenun ikat dari Suku Dayak di KalimantanBarat ini. 
Kain tenun Sintang dari Kalimantan barat ini berasal  dari dua daerah kecil di Kabupaten Sintang, yakni Ensaid panjang dan Bukit kelam. 


Kain tenun , mempunyai peran  sangat penting dalam  kehidupan sehari-hari dan upacara adat. Suku Dayak membuat tenunan dengan motif yang indah untuk baju, rok, cawat, dan selimut juga bagi kepentingan upacara.  Menenun sudah menjadi kewajiban, khususnya bagi kaum wanita karena ke-dua kebutibutuhan tersebut.  Ia mulai langka karena perkembangan jaman dan teknologi, 



Pastor Maessen dan upaya pelestarian Kain Sintang
Bicara mengenai pelestarian kain tenun Sintang, sangat sulit tanpa menyebut satu nama, yaitu pastor Maessen, seorang misionaris Katholik asal Belanda yang sudah  lebih dari  50 tahun mengabdikan dirinya untuk memajukan masyarakat Dayak di Pulau kalimantan. Pada tahun 1999, Yayasan Kobus, pi,pimam pastor Messen,  bekerjasama dengan beberapa NGO menghidupkan kembali kegiatan menenun sebagai upaya alternatif untuk meningkatkan pendapatan keluarga, sekaligus untuk melestarikan budaya, melalui suatu program yang dinamakan ”Restorasi Tenun Ikat Dayak”.


Maret 2017, berjumpa Marcel & Margot Maessen yang datang dari Belanda mengunjungi     
sang adik pastor Maessen di Sintang yang merayakan 50 tahun melayani Dayak Indonesia, sebagai pastor.



Simak pendapat pastor Maessen tentang Tenun Sintang yang pernah dimuat di Senentang News .com Nov, 2014 : “Tenun ikat merupakan salah satu kebudayaan indonesia yang sangat bagus dan sangat bernilai. Namun sangat disayangkan karena hanya sebeberapa dihargai. Kebudayaan tenun ikat tidak boleh hilang. Orang luar datang ke Indonesia sangat mengagumi Kebudayaan kita, sangat menghargai tenun ikat. Mereka justru sangat berminat untuk mempelajari dalam pembuatan tenun ikat itu. Mereka bahkan membeli tenun dan membawa ke negara mereka.”
“Kain tenun ikat memliki motif yang beragam, memiliki arti dan cerita kehidupan . Di Kabupaten Sintang memiliki Orang-orang yang bepotensi dalam membuat dan melestarikan Tenun Ikat serta kebudayaan lainnya. Ini harus kita dukung , kita hargai dan kita fasilitasi agar mereka terus bekarya dan terus berkembang.”

Motif, menggambarkan hubungan manusia dengan alam

Seperti banyak daerah di Indonesia proses menenun, motif  nya menggambarkan distim kepercayaan mereka dan menggambarkan kehidupan itu sendiri. Demikian juga pada suju Dayak.. Menurut cerita  Suku Dayak pada masa dahulu kala,  membuat kain tenun menjadi sakral. Menurut kepercayaan leluhur, dunia dibagi dua kehidupan yaitu dunia atas dan dunia bawah. Bentuk sakral dari kain tenun bagi masyarakat Dayak terdapat pada benang dan motif. Karena kain tenun dianggap sakral, maka kain tenun ikat menjadi pakaian wajib dalam setiap upacara adat masyarakat Dayak.
“Benang menjadi sakral pada proses pewarnaan kain tenun. Karena menurut kepercayaan masyarakat Dayak, saat roh pewarna dunia bawah menyatu dengan roh pewarna dunia atas maka saat itulah benang jadi memiliki arti sakral. Oleh karena itulah, untuk menjaga animo masyarakat Dayak dalam menghasilkan tenun ikat serta untuk menghargai kebudayaan leluhur mereka maka Pastor Mensen semakin membantu masyarakat Dayak Sintang agar bisa menggali lebih dalam motif-motif tenun ikat peninggalan leluhur mereka agar bisa diproduksi.



Kalau disimak, motif kain tenun ikat Dayak, adalah gambaran mimpi tentang kehidupan, dewa, manusia, hewan, tumbuhan, bahkan hantu, yang kemudian dituangkan dalam gambar ataupun lukisan di kain-kain tenun yang dibuat para perempuan Dayak yang mendiami rumah betang di wilayah kabupaten di Kalimantan Barat.   Gambar dalam tenunan tetap merupakan ruang lingkup kehidupan manusia, tetap ada hubungannya dengan manusia, alam atas, dan alam bawah. Juga dengan alam sekitar, binatang, dan tumbuh-tumbuhan. 



Dari mana mereka belajar menenun?
Para penenun di rumah-rumah Betang Suku Dayak di Kalimantan, belajar menenun secara turun-temurun dari para orang tua mereka. Dari satu generasi ke generasi berikutnya. Mereka mencoba melestarikan tradisi. Namun juga harus diakui, seiring dengan pergeseran waktu, kini banyak anak muda Rumah Betang enggan menenun.
Antara news bulan lalu (29/07/2017)  mengutip percakapannya dengan seorang penenunn yang dijumpainya di Rumah Betang Ensaid Panjang, Kabupaten Sintang, Maria (40), mengaku belajar menenun dari ibunya, saat dia masih remaja. "Saya belajar dari mamak (ibu) saya," kata Maria.



Untuk saya bisa memiliki  kain tenun ikat Dayak dan juga daerah lainnya mempunyai kebanggan tersendiri. Paling tidak merasa ikut   mempertahankan warisan budaya  Pmdonesia/

Bersama pak Odang dan Mr   Willie Smits berkenan dititipi kain Tenun Sintang